Jenis Alat Music dan Macam-Macam Aliran Music

Alat musik yang tradisional
• musik petik: gitar, kecapi, sasando, banjo, ukulele, mandolin, harpa, gambus
• Alat musik gesek: biola, rebab, cello
• Alat musik ketuk: organ, piano, harpsichord,
• Alat musik tiup: seruling, terompet, trombon, harmonika, pianika, recorder sopran,
• Alat musik pukul: tamborin, jidor, rebana, gamelan,
• Alat musik moderen: gitar listrik, organ, akordeon, drum,

Berikut adalah daftar aliran/genre utama dalam musik. Masing-masing genre terbagi lagi menjadi beberapa sub-genre. Pengkategorian musik seperti ini, meskipun terkadang merupakan hal yang subjektif, namun merupakan salah satu ilmu yang dipelajari dan ditetapkan oleh para ahli musik dunia.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, dunia musik mengalami banyak perkembangan. Banyak jenis musik baru yang lahir dan berkembang. Contohnya musik triphop yang merupakan perpaduan antara beat-beat elektronik dengan musik pop yang ringan dan enak didengar. Contoh musisi yang mengusung jenis musik ini adalah Frou Frou, Sneaker Pimps dan Lamb. Ada juga hip-hop rock yang diusung oleh Linkin Park. Belum lagi dance rock dan neo wave rock yang kini sedang in. banyak kelompok musik baru yang berkibar dengan jenis musik ini, antara lain Franz Ferdinand, Bloc Party, The Killers, The Bravery dan masih banyak lagi.
Bahkan sekarang banyak pula grup musik yang mengusung lagu berbahasa daerah dengan irama musik rock, jazz dan blues. Grup musik yang membawa aliran baru ini di Indonesia sudah cukup banyak salah satunya adalah Funk de Java yang mengusung lagu berbahasa Jawa dalam musik rock.
. Musik klasik
. Musik rakyat/musik tradisional
. Musik keagamaan
. Gambus
. Kasidah
. Nasyid
. Blues
. Jazz
. Country
. Rock
. Musik populer
. Musik dunia

Di bawah ini merupakan sedikit penjelasan dari beberapa aliran musik. kita lihat aja yuk…

Musik Reggae Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.

Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae adalah Ska dan Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di Jamaika yang sarat dengan pengaruh musik Afro-Amerika. Secara teknis dan musikal banyak eksplorasi yang dilakukan musisi Ska, diantaranya cara mengocok gitar secara terbalik (up-strokes) , memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks.

Teknik para musisi Ska dan Rocsteady dalam memainkan alat musik, banyak ditirukan oleh musisi reggae. Namun tempo musiknya jauh lebih lambat dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol. Karakter vokal biasanya berat dengan pola lagu seperti pepujian (chant), yang dipengaruhi pula irama tetabuhan, cara menyanyi dan mistik dari Rastafari. Tempo musik yang lebih lambat, pada saatnya mendukung penyampaian pesan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan sosial politik humanistik dan universal.

Album “Catch A Fire” (1972) yang diluncurkan Bob Marley and The Wailers dengan cepat melambungkan reggae hingga ke luar Jamaika. Kepopuleran reggae di Amerika Serikat ditunjang pula oleh film The Harder They Come (1973) dan dimainkannya irama reggae oleh para pemusik kulit putih seperti Eric Clapton, Paul Simon, Lee ‘Scratch’ Perry dan UB40. Irama reggae pun kemudian mempengaruhi aliran-aliran musik pada dekade setelahnya, sebut saja varian reggae hip hop, reggae rock, blues, dan sebagainya.

Jamaika

Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”. Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikuti pula dengan melesunya perdagangan gula dunia.

Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun membekaskan produk silang budaya yang akhirnya menjadi tradisi folk asli Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika atau Eropa dengan cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur.

Musik reggae sendiri pada awalnya lahir dari jalanan Getho (perkampungan kaum rastafaria) di Kingson ibu kota Jamaika. Inilah yang menyebabkan gaya rambut gimbal menghiasi para musisi reggae awal dan lirik-lirik lagu reggae sarat dengan muatan ajaran rastafari yakni kebebasan, perdamaian, dan keindahan alam, serta gaya hidup bohemian. Masuknya reggae sebagai salah satu unsur musik dunia yang juga mempengaruhi banyak musisi dunia lainnya, otomatis mengakibatkan aliran musik satu ini menjadi barang konsumsi publik dunia. Maka, gaya rambut gimbal atau dreadlock serta lirik-lirik ‘rasta’ dalam lagunya pun menjadi konsumsi publik. Dalam kata lain, dreadlock dan ajaran rasta telah menjadi produksi pop, menjadi budaya pop, seiring berkembangnya musik reggae sebagai sebuah musik pop.

Musik reggae, sebutan rastaman, telah menjadi satu bentuk subkultur baru di negeri ini, di mana dengannya anak muda menentukan dan menggolongkan dirinya. Di sini, musik reggae menjadi penting sebagai sebuah selera, dan rastaman menjadi sebuah identitas komunal kelompok social tertentu. Tinggal bagaimana para pengamat social dan juga para anggota komunitas itu memahami diri dan kultur yang dipilihnya, agar tidak terjadi penafsiran keliru yang berbahaya bagi mereka. Penggunaan ganja adalah salah satu contohnya, di mana reggae tidak identik dengan ganja serta rastafarianisme pun bukanlah sebuah komunitas para penghisap ganja.

Sebuah lagu dari “Peter Tosh” (nama aslinya Peter McIntosh), pentolan The Wairles yang akhirnya bersolo karier. Dalam lagu ini, Peter Tosh menyatakan dukungannya dan tuntutannya untuk melegalkan ganja. Karena lagu ini, ia sempat ditangkap dan disiksa polisi Jamaika.

Menurut sejarah Jamaica, budak yang membawa drum dari Africa disebut “Burru” yang jadi bagian aransemen lagu yang disebut “talking drums” (drum yang bicara) yang asli dari Africa Barat. “Jonkanoo” adalah musik budaya campuran Afrika, Eropa dan Jamaika yang terdiri dari permainan drum, rattle (alat musik berderik) dan conch tiup. Acara ini muncul saat natal dilengkapi penari topeng. Jonkanoos pada awalnya adalah tarian para petani, yang belakangan baru disadari bahwa sebenarnya mereka berkomunikasi dengan drum dan conch itu. Tahun berikutnya, Calypso dari Trinidad & Tobago datang membawa Samba yang berasal dari Amerika Tengah dan diperkenalkan ke orang – orang Jamaika untuk membentuk sebuah campuran baru yang disebut Mento. Mento sendiri adalah musik sederhana dengan lirik lucu diiringi gitar, banjo, tambourine, shaker, scraper dan rumba atau kotak bass. Bentuk ini kemudian populer pada tahun 20 dan 30an dan merupakan bentuk musik Jamaika pertama yang menarik perhatian seluruh pulaunya. Saat ini Mento masih bisa dinikmati sajian turisme. SKA yang sudah muncul pada tahun 40 – 50an sebenarnya disebutkan oleh History of Jamaican Music, dipengaruhi oleh Swing, Rythym & Blues dari Amrik. SKA sebenarnya adalah suara big band dengan aransemen horn (alat tiup), piano, dan ketukan cepat “bop”. Ska kemudian dengan mudah beralih dan menghasilkan bentuk tarian “skankin” pad awal 60an. Bintang Jamaica awal antara lain Byron Lee and the Dragonaires yang dibentuk pada 1956 yang kemudian dianggap sebagai pencipta “ska”. Perkembangan Ska yang kemudian melambatkan temponya pada pertengahan 60an memunculkan “Rock Steady” yang punta tune bass berat dan dipopulerkan oleh Leroy Sibbles dari group Heptones dan menjadi musik dance Jamaika pertama di 60an.

“Reggae & Rasta”

Bob Marley tentunya adalah bimtang musik “dunia ketiga” pertama yang jadi penyanyi group Bob Marley & The Wailers dan berhasil memperkenalkan reggae lebih universal. Meskipun demikian, reggae dianggap banyak orang sebagai peninggalan King of Reggae Music, Hon. Robert Nesta Marley. Ditambah lagi dengan hadirnya “The Harder they Come” pada tahun 1973, Reggae tambah dikenal banyak orang. Meninggalnya Bob Marley kemudian memang membawa kesedihan besar buat dunia, namun penerusnya seperti Freddie McGregor, Dennis Brown, Garnett Silk, Marcia Fiffths dan Rita Marley serta beberapa kerabat keluarga Marley bermunculan. Rasta adalah jelas pembentuk musik Reggae yang dijadikan senjata oleh Bob Marley untuk menyebarkan Rasta keseluruh dunia. Musik yang luar biasa ini tumbuh dari ska yang menjadi elemen style American R&B dan Carribean. Beberapa pendapat menyatakan juga ada pengaruh : folk music, musik gereja Pocomania, Band jonkanoo, upacara – upacara petani, lagu kerja tanam, dan bentuk mento. Nyahbingi adalah bentuk musik paling alami yang sering dimainkan pada saat pertemuan – pertemuan Rasta, menggunakan 3 drum tangan (bass, funde dan repeater : contoh ada di Mystic Revelation of Rastafari). Akar reggae sendiri selalu menyelami tema penderitaan buruh paksa (ghetto dweller), budak di Babylon, Haile Selassie (semacam manusia dewa) dan harapan kembalinya Afrika. Setelah Jamaica merdeka 1962, buruknya perkembangan pemerintahan dan pergerakan Black Power di US kemudian mendorong bangkitnya Rasta. Berbagai kejadian monumentalpun terjadi seiring perkembangan ini.

“Apa sih Reggae”

Reggae sendiri adalah kombinasi dari iringan tradisional Afrika, Amerika dan Blues serta folk (lagu rakyat) Jamaika. Gaya sintesis ini jelas menunjukkan keaslian Jamaika dan memasukkan ketukan putus – putus tersendiri, strumming gitar ke arah atas, pola vokal yang ‘berkotbah’ dan lirik yang masih seputar tradisi religius Rastafari. Meski banyak keuntungan komersial yang sudah didapat dari reggae, Babylon (Jamaika), pemerintah yang ketat seringkali dianggap membatasi gerak namun bukan aspek politis Rastafarinya. “Reg-ay” bisa dibilang muncul dari anggapan bahwa reggae adalah style musik Jamaika yang berdasar musik soul Amerika namun dengan ritem yang ‘dibalik’ dan jalinan bass yang menonjol. Tema yang diangkat emang sering sekitar Rastafari, protes politik, dan rudie (pahlawan hooligan). Bentuk yang ada sebelumnya (ska & rocksteady) kelihatan lebih kuat pengaruh musik Afrika – Amerika-nya walaupun permainan gitarnya juga mengisi ‘lubang – lubang’ iringan yang kosong serta drum yang kompleks. Di Reggae kontemporer, permainan drum diambil dari ritual Rastafarian yang cenderung mistis dan sakral, karena itu temponya akan lebih kalem dan bertitik berat pada masalah sosial, politik serta pesan manusiawi.

“Tidak asli Jamaika”

Reggae memang adalah musik unik bagi Jamaika, ironisnya akarnya berasal dari New Orleans R&B. Nenek moyang terdekatnya, ska berasal berasal dari New Orleans R&B yang didengar para musisi Jamaika dari siaran radio Amrik lewat radio transistor mereka. Dengan berpedoman pada iringan gitar pas – pasan dan putus – putusadalah interprestasi mereka akan R&B dan mampu jadi populer di tahun 60an. Selanjutnya semasa musim panas yang terik, merekapun kepanasan kalo musti mainin ska plus tarinya, hasilnya lagunya diperlambat dan lahirlah Reggae. Sejak itu, Reggae terbukti bisa jadi sekuat Blues dan memiliki kekuatan interprestasi yang juga bisa meminjam dari Rocksteady (dulu) dan bahkan musik Rock (sekarang). Musik Afrika pada dasarnya ada di kehidupan sehari-hari, baik itu di jalan, bus, tempat umum, tempat kerja ato rumah yang jadi semacam semangat saat kondisi sulit dan mampu memberikan kekuatan dan pesan tersendiri. Hasilnya, Reggae musik bukan cuma memberikan relaksasi, tapi juga membawa pesan cinta, damai, kesatuan dan keseimbangan serta mampu mengendurkan ketegangan.

“It’s Influences”

Saat rekaman Jamaika telah tersebar ke seluruh dunia, sulit rasanya menyebutkan berapa banyak genre musik popular sebesar Reggae selama dua dekade. Hits – hits Reggae bahkan kemudian telah dikuasai oleh bintang Rock asli mulai Eric Clapton sampai Stones hingga Clash dan Fugees. Disamping itu, Reggae juga dianggap banyak mempengaruhi pesona tari dunia tersendiri. Budaya ‘Dancehall’ Jamaika yang menonjol plus sound system megawatt, rekaman yang eksklusif, iringan drum dan bass, dan lantunan rap dengan iringannya telah menjadi budaya tari dan tampilan yang luar biasa.Inovasi Reggae lainnya adalah Dub remix yang sudah diasimilasi menjadi musik populer lainnya lebih luas lagi.

Blues dikenal sebagai sebuah aliran musik vokal dan instrumental yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Musik yang mulai berkembang pesat pada abad ke-19 M itu muncul dari musik-musik spiritual dan pujian yang biasa dilantunkan komunitas kulit hitam asal Afrika di AS. Musik yang menerapkan blue note dan pola call and response itu diyakini publik AS dipopulerkan oleh ‘Bapak Blues’–WC Handy (1873-1958).

Percayakah Anda bahwa musik Blues berakar dari tradisi kaum Muslim Awalnya, publik di negeri Paman Sam pun tak meyakininya. Namun, seorang penulis dan ilmuwan serta peneliti pada Schomburg Center for Research in Black Culture di New York, Sylviane Diouf, berhasil meyakinkan publik bahwa Blues memiliki relasi dengan tradisi masyarakat Muslim di Afrika Barat.

Untuk membuktikan keterkaitan antara musik Blues Amerika dengan tradisi kaum Muslim, Diouf memutar dua rekaman. Yang pertama diperdengarkannya kepada publik yang hadir di sebuah ruangan Universitas Harvard itu adalah lantunan adzan–panggilan bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat. Setelah itu, Diouf memutar Levee Camp Holler.

Rekaman kedua itu adalah lagu Blues lawas yang pertama kali muncul di Delta Mississippi sekitar 100 tahun yang lalu. Levee Camp Holler bukanlah lagu blues yang terbilang biasa. Lagu itu diciptakan oleh komunitas kulit hitam Muslim asal Afrika Barat yang bekerja di Amerika pasca-Perang Sipil.

Lirik lagu Levee Camp Holler yang diperdengarkan Diouf itu terdengar seperti panggilan suara adzan–berisi tentang keagungan Tuhan. Seperti halnya lantunan adzan, lagu itu menekankan kata-kata yang terdengar bergetar. Menurut Diouf, langgam yang sengau antara lagu Blues Levee Cam Holler yang mirip adzan juga merupakan bukti adanya pertautan antara keduanya.

Publik yang hadir di ruangan itu pun takjub dengan kebenaran bukti yang diungkapkan Diouf. “Tepuk tangan pun bergemuruh, sebab hubungan antara musik Blues Amerika dengan tradisi Muslim jelas-jelas terbukti,” papar Diouf. “Mereka berkata, ‘Wow, benar-benar terdengar sama. Blues ternyata benar berakar dari sana (tradisi Islam)’.”

Jonathan Curiel dalam tulisannya bertajuk, Muslim Roots, US Blues, mengungkapkan bahwa publik Amerika perlu berterima kasih kepada umat Islam dari Afrika Barat yang tinggal di Amerika. Sekitar tahun 1600 hingga pertengahan 1800 M, banyak penduduk kulit hitam dari Afrika Barat yang dibawa paksa ke Amerika dan dijadikan budak.

Menurut para sejarawan, sekitar 30 persen budak dari Afrika Barat yang dipekerjakan secara paksa di Amerika itu adalah Muslim. “Meski oleh tuannya dipaksa untuk menganut Kristen, namun banyak budak dari Afrika itu tetap menjalankan agama Islam serta kebudayaan asalnya,” cetus Curiel.

Mereka tetap melantunkan ayat-ayat Alquran setiap hari. Namun, sejarah juga mencatat bahwa para pelaut Muslim dari Afrika Barat adalah yang pertama kali menemukan benua Amerika sebelum Columbus. “Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation.

Curiel menambahkan, pengaruh lainnya yang diberikan komunitas kulit hitam yang beragama Muslim di Amerika terhadap musik Blues adalah alat-alat musik yang bisa mereka mainkan. Pada era perbudakan di Amerika, orang kulit putih melarang mereka untuk menabuh drum, karena khawatir akan menumbuhkan semangat perlawanan para budak.

Namun, penggunaan alat musik gesek yang biasa dimainkan umat Islam dari Afrika masih diizinkan untuk dimainkan karena dianggap mirip biola. Guru Besar Ethnomusikologi dari Universitas Mainz, Jerman, bernama Prof Gehard Kubik mengatakan alat musik banjo Amerika juga berasal dari Afrika.

Secara khusus, Prof Kubik menulis sebuah buku tentang relasi musik Blues dengan peradaban Islam di Afrika Barat berjudul, Africa and the Blues, yang diterbitkan University Press of Mississippi pada 1999. “Saya yakin banyak penyanyi Blues saat ini yang tak menyadari bahwa pola musik mereka meniru tradisi musik kaum Muslim di Arab” cetusnya.

Secara akademis Prof Kubik telah membuktikannya. “Gaya vokal kebanyakan penyanyi Blues menggunakan melisma, intonasi bergelombang. Gaya vokal seperti itu merupakan peninggalam masyarakat di Afrika Barat yang telah melakukan kontak dengan dunia Islam sejak abad ke-7 dan 8 M,” paparnya. Melisma menggunakan banyak nada dalam satu suku kata.

Sedangkan, intonasi bergelombang merupakan rentetan yang beralih dari mayor ke skala minor dan kembali lagi. Hal itu sangat umum digunakan saat kaum Muslim melantunkan adzan dan membaca Alquran. Dengan fakta itu, papar Prof Kubik, para peneliti musik seharusnya mengakui bahwa Blues berakar dari tradisi Islam yang berkembang di Afrika Barat.

Meski telah dibuktikan secara akademis, namun masih banyak pula yang tak mengakui adanya pengaruh tradisi masyarakat Muslim Afrika dalam musik Blues. “Non-Muslim sangat sulit untuk meyakini fakta itu, karena mereka tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang peradaban Islam dan musik Islami,” ungkap Barry Danielian, seorang pemain terompet yang tampil bersama Paul Simon, Natalie Cole, dan Tower of Power.

Suara lantunan adzan dan ayat-ayat Alquran yang biasa dilantunkan para Muslim kulit hitam di Amerika mengandung musikalitas. “Dalam jamaah saya, kata Danielian yang tinggal di Jersey City, New Jersey, ‘Ketika kami berkumpul dan sang imam datang ada ratusan orang dan kami melantunkan doa, pasti terdengar sangat musikal. Anda akan mendengar musikal itu seperti orang Amerika menyebut Blues.’” Begitulah tradisi Islam di AS telah melahirkan sebuah aliran musik bernama Blues

Melayu, Melayu Deli, Orkes Tabla, Baru Dangdut Tak ada pemusik dangdut yang berhak menyebut bahwa dialah yang telah menaikkan kelas dangdut. Sejak awal, jika dangdut ditarik ke awal kemunculannya, musik ini sudah diperuntukkan bagi semua kelas. Akar dari dangdut adalah musik Melayu. Dan orang pertama yang menggunakan istilah “Melayu” dalam musik adalah dr. A.K. Gani, tokoh Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), pada 1938. Di mata Gani, musik Melayu adalah musik rakyat dan, katanya, “Bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan nasionalisme.”

A.K. Gani memasukkan keroncong, orkes harmonium, dan irama Malaya ke dalam rumpun orkes Melayu. Sejak itulah, pada masa awal kemerdekaan, musik ini mendapat prioritas. Radio Republik Indonesia adalah media pertama yang meluaskan orkes Melayu ini hingga naik pamor dan menjadi musik yang merakyat.

Sepuluh tahun sejak “gerakan bersama” itu muncul berbagai corak Melayu dan yang paling menonjol adalah Melayu Deli. Instrumen yang dipakai dalam Melayu Deli ini antara lain akordeon, suling, bas, kadang-kadang gambus dan rebana (pengaruh musik Arab), juga gendang yang menghentak. Gendang ini dipakai untuk mengiringi tarian yang mengutamakan gerak kaki.

Begitu dominannya pengaruh Melayu Deli, jika orang menyebut “melayu” maka yang hidup di kepala masyarakat adalah Melayu Deli. Pada sekitar 1955, Orkes Melayu Chandralela pimpinan Mashabi dengan penyanyi-penyanyi Said Effendi, Ellya Agus (Ellya Khadam), Juhana Satar, dan Elvy Sukaesih sangat populer. Menyusul kemudian Orkes Melayu Bukit Siguntang pimpinan Abdul Chalik dengan penyanyi Hasnah Thahar dan Husaimi. Ada juga A. Haris yang mencipta lagu yang sangat terkenal, Kudaku Lari.

Bersamaan dengan populernya musik melayu, pada awal 1960-an, pemerintahan Demokrasi Terpimpin membuka keran lebih lebar bagi film India, sementara film Barat ditutup. Raj Kapoor pun menjadi bintang yang paling dipuja. Sementara para pemusik melayu yang dinamis dan berirama mulai melirik ilustrasi musik India di film-film India. Mereka memasukkan sisi sentimental yang meratap seperti dalam film India ke dalam musik Melayu.

Husein Bawafie kemudian menciptakan lagu Boneka dari India buat Ellya Khadam. Ada pula Said Effendi yang menyodorkan lagu-lagu yang sentimental. Namun, Ellyalah yang kemudian dianggap memproklamasikan sifat India Melayu itu. Ellya tak banyak melakukan goyang tubuh, hanya sebatas pada menggoyangkan pundak dan kepala.

Instrumen orkes Melayu pun mulai berubah. Peran gendang mulai digantikan tabla yang populer di India. Munif Bahaswan, penyanyi dan penulis lagu dangdut, seperti dikutip Tempo (30 Juni 1984), menyebut Kudaku Lari (1953) sebagai lagu pertama yang memberanikan diri memasukkan suara gendang ala India pada orkes yang semula hanya memakai gitar, harmonium, bas, dan mandolin. Irama yang sama juga ada pada lagu India asli Awarabum.

Irama tabla itu tak cuma merangsang gerak kaki, tapi juga liukan tari India dan gerak doger atau jaipong. Inilah awal mula goyang menjadi pelengkap tak terelakkan dari orkes Melayu. Said Effendi menyebut masuknya tabla itu dengan istilah “irama tabla”.

Lalu, dari mana istilah “dangdut” itu berasal? Said Effendi yang tak senang dengan istilah “dangdut”, dalam Tempo (5 Mei 1979) mengatakan, “Istilah itu muncul karena perasaan sinis dari mereka yang anti musik Melayu.”

Rhoma Irama (dulu Oma Irama) pada awal-awal pemunculannya itu pun menolak istilah yang saat itu mulai banyak digunakan. Rhoma berkeras menyebut orkesnya “Melayu”. Ia menyebutkan istilah dangdut itu diberikan oleh mereka yang tak suka irama Melayu.

Tim Peneliti Lagu-lagu Melayu Radio Republik Indonesia pada awal 1980-an juga menolak dangdut masuk ke lingkungan irama Melayu. Mereka menyebut jenis itu sebagai “orkes tabla”. Penolakan itu terbit dari semangat menjaga “keaslian Melayu”, yakni musik Melayu Deli.

Said Effendi menunjuk Amengku, penyiar dari Radio Agustina yang pertama menyebut istilah “dangdut” pada 1977. Tapi istilah itu sudah muncul dalam laporan utama Tempo 22 Maret 1975.

William H. Frederick, orang Amerika yang membuat riset tentang dangdut, menyebut dangdut sebagai gejala onomatopoeia atau pembentukan kata berdasarkan bunyi. Jadi, bunyi “dang” dan “dut” pada tabla itulah yang kemudian populer dan menggeser Melayu Deli atau Orkes Tabla.

Pemusik Tonny Koeswoyo (Koes Plus)-lah yang justru kemudian lebih berani menempatkan nama “dangdut” sebagai induk dari tiga jenis musik yang berkembang luas di masyarakat: Melayu Deli, dangdut yang dipengaruhi Arab dan India, serta dangdut pribumi. “Dangdut pribumi, kalau didengarkan, talu gendang dan sulingnya tidak meliuk-liuk seperti India, namun tidak pula monoton seperti Melayu Deli,” ujarnya.

Koes Plus kemudian ikut membuat album Melayu. Begitu juga Bimbo. Turunnya dua kelompok musik pop itu menambah keyakinan bahwa dangdut tak cuma bisa mencorongkan sang pelantunnya, tapi juga grup.

Yang kemudian begitu menyedot perhatian masyarakat Indonesia adalah munculnya Rhoma Irama dengan Orkes Soneta yang didirikan pada 1971. Frederick menghitung, pada 1980-an penggemar Rhoma Irama mencapai hingga 10 persen penduduk Indonesia.

Rhoma, dengan latar belakang seorang pemain band yang senang Beatles dan penggemar gitaris Ritchie Blackmore dari kelompok rock Deep Purple, mendekatkan dangdut pada alat-alat listrik. Ia juga mencoba memasukkan musik hard rock ke dalam komposisi dangdut. Dalam break lagu ia memasukkan irama tabla. Aksi panggungnya juga memasukkan asap sebagaimana pertunjukan God Bless.

Aksi dan lagu-lagu Rhoma yang kian digemari itu menjawab tudingan “musik kampungan” dari sejumlah pengamat musik. “Kebangkitan Soneta karena banyak cemoohan yang waktu itu muncul dari kalangan rock.”

Pada 1975 itu musik Indonesia mencatat “wabah dangdut”. Hampir semua pemusik Indonesia, “dari pop sampai klasik”, meminjam ungkapan salah satu lagu Rhoma, mencoba memasukkan unsur dangdut ke dalam musik mereka.

Kini, dangdut bukan cuma telah mewabah, tapi sudah menjadi menu harian bagi masyarakat. Penyanyi dan grup dangdut pun silih berganti datang membawa “wabah”-nya masing-masing. Varian musik dangdut pun sudah kian berkembang. Boleh jadi, pada suatu saat dangdut pun bermetamorfosis menjadi musik lain, dengan nama yang lain. Kalau sudah jauh berkembang, siapa yang berani mengklaim bahwa dialah yang menjadi “pendekar” dan berhak mewarisi musik rakyat itu? yot/narila mutia

Koran Tempo 4 Mei 2003

Rock dari Masa ke Masa

1. Era 70-80

Warna musik band di Indonesia sangat dipengaruhi oleh group barat yang ngetop waktu
itu seperti :
– Uriah Heep, Black Sabbath, Kiss, Led Zeppelin, Beatles, Kansas, Marillion, Yess, dll.

Jenis musiknya juga sudah bermacam-macam, mulai Rock, Blues, Rock n Roll,dan Art Rock.
Kayak Marillion, Yess, Genesis itu termasuk Art Rock, Beatles itu termasuk Rock kadang
juga Rock n Roll, Elvys Presley itu juga Rock n Roll.

Gaya peno

nton juga cuman ikut bergoyang ikuti musik, kadang lepas baju juga karena
gerah/sumuk he..he..

Di Surabaya ada terkenal cuman 2 band yaitu AKA band dan SAS

Karena teknologi masih kurang/minim, maka penggunaan efek guitar masih kurang,
sehingga penonjolan ada pada skill individu dan aksi panggungnya.

2. Era 80-90 an

Mulai bermunculan warna-warna baru dalam musik Rock dengan sound yang lebih garang,
speed menonjol, lengkingan vokal yang tinggi dan distorsi gitar lebih tebal. Seiring
dengan majunya perangkat efek gitar dan teknologi sound systemnya. Muncullah jenis
Heavy metal, Metalzone

Di ilhami dengan group band yang dari luar seperti Halloween, Metallica, iron Maiden,
Bon Jovi,dll,
maka muncullah di Indonesia group band seperti Adi Metal, Big Panzer, Kamikaze, juga
termasuk di Surabaya, banyak bermunculan group band seperti :
Boysster’s, Rock Trickle, Buldozzer, Lost Angels, Pumars, Red Spider, Power Metal,
Andromedha,dll.

Stage act atau aksi panggung tak kalah dengan yang sebelumnya, dan masing-masing
memiliki ciri khas sendiri2.
Seperti, Pumars, dengan kostum vokalisnya selalu memakai kostum Mummy,
Buldozzer, dengan kostum Dracula, Kamikaze – Style jepang ala Loudness.

Pada Era ini muncullah madzab musik : Heavy Metal, Hard Rock, Speed Metal
Karena aksinya yang tergolong “gila” maka mulailah para fans nya membuat geng-geng
yang mendukung group band nya masing-masing, dan ini menjadi cikal bakal seringnya
tawuran di saat ada live musik. Beberapa geng yang ada di Surabaya, Boy horor, Arodam,
Madhaz, Riot, Poezhink, Man No War

Aksi penonton mulai ada yang melakukan Head Banger, mengibaskan rambutnya yang
gondrong2 dengan kepala di goyang-goyangkan mengikuti beat lagu dengan salam metal 3
jari (yang kemudian salam ini dipakai oleh salah satu partai di Indonesia)

Pada era ini, sempat terbentuk wadah Rocker khususnya di Surabaya yang bernama “Mania
Rockers”, sempat eksi dan sempat pula mengirimkan wakitlnya untuk konser di Jawa
Tengah, Jawa Barat, dll. Saat itulah, Barometer musik Rock/Metal adalah di Surabaya.

3. Era 90 – 95 an

Warna musik masih sama, tapi banyak band baru yang bermunculan seperti String, Sound
Harness, Eclips, Phytagoraz, ertebe, Gletsyer, Krack, Crystal, dll.
Jenis musik Speed Metal masih jadi pilihan utama meski Trash Metal mulai juga dilirik
dan digarap oleh band-band yang baru.
SEPULTURA merupakan band jenis Trash Metal yang menjadikan jenis musik ini diterika
sebagai aliran Rock yang terkeras dan tercepat dengan vocal garang yang merubah pakem
Rock bahwa tidak harus bervocal tinggi..

Pada Era ini, Harpa Record sudah mulai tertarik untuk mengeluarkan album kompilasi
yang kelak kemudian diberi titel “Indonesian Rock & Metal” dan pada akhirnya booming 4
series album dalam kurun waktu cuman 4 tahun.

Beberapa group band yang memunculkan HITZ :
Andromedha dg lagu Lamunan
Big Panser dg lagu Bursa Metal
Kamikaze dg lagu Dewa Angin
Brigade Metal dg lagu Dendam Setan
Red Spider dg lagu Anak Liar
Pumars dg lagu Ambarawa

Pada era inilah merupakan kejayaan musik Rock di beberapa kota di seluruh Indonesia.
Tetapi kejayaan ini tidak bertahan lama ketika para fans maniak masing-masing band
yang memiliki geng-geng nya sendiri-sendiri mulai bersikap anarkhis, mau menang
sendiri, pengen di akui ingin menjadi geng yang terkuat terbesar dan banyak anggota,
maka mulailah disetiap pentas live musik Rock, diwarnai dengan tawuran, kekacauan
bahkan sampai sempat menimbulkan korban jiwa juga.
Peristiwa konser SEPULTURA di Surabaya yang kacau dan juga METALICA di Jakarta yang
berbuntut kekacauan yang dramatis menyebabkan akhirnya pentas musik Rock dilarang
untuk jangka waktu yang cukup lama..

4. Era 95 -2000

Pada periode ini musik Rock mengalami stagnasi yang parah. Disebabkan karena
kekacauan, aksi brutal dan kekisruhan disetiap live musiknya, yang berujung kepada
pelarangan pentas untuk musik-musik sejenis ini. Hampir mati mungkin sudah sekarat
musik Rock di hampir seluruh negri…
Kejenuhan terjadi, susahnya penyelenggaraan konser Rock, masuknya aliran alternative
yang dibawa oleh Nirvana dan faktor udzurnya Rocker2 era 80-90 an. Kaderasasi mulai
dipikirkan oleh mereka para penggemar musik Rock.
NIRVANA sebagai musik alternatif menumbuhkan gairah baru di para Rocker, dengan
cordnya yang simpel maka banyaklah lagu2 nirvana yang di adopsi mereka.
Skill mulai tidak diperhatikan, speed, harmonisasi dan beat-beat indah yang dulu
selalu ada mulai tenggelam. Bahkan distorsi dan efek gitar tidak lagi menjadi kekuatan
melainkan hanya menjadi noise saja yang tidak bermanfaat.

Banyaknya group band yang masih menganut faham metal jenis sebelumnya yang tidak lagi
terperhhatikan, tak lagi dapat konser di panggung, tak lagi ada prodiuser yang
melirik, hal ini menyebabkan munculnya jenis baru di blantika musik yakni musik
UNDERGROUND, mereka bermainnya diam-diam, merekam kasetnya sendiri dan menjualnya
sendiri, dengan ciri-ciri wajah di balut cat minyak semacam topeng seperti KISS di era
80 an, musiknya mengutamakan speed, skill, harmonisasi dengan ciri vokal adalah
ditariknya nafas ketika mereka menyanyi, sebalinya dari umumya vokal yang nafasnya
dikeluarkan.
Maka terdengarlah suara-suara teriakan yang menyayat dan aneh.

Speed mereka di atas METAl dan di atas TRash Metal padahal Trash Metal adalah speed
dan beat tercepat pada era itu. Akhirnya jenis musik UNDERGROUND ini diterima di
Masyarakat yang juga masyarakat Underground.

Dengan suara yang khas seperti teriakan-teriakan aneh, musiknya dan liriknya banyak
menggambarkan masalah kematian, maka tidak heran jika nama group band mereka juga
berhubungan dengan masalah2 kematian seperti LIANG LAHAT, ROH KUDUS, KAFFAN, PEJAH
(MATI), dll.
Maka muncullah komunitas baru yakni Underground dengan jenis musik beberapa macam
seperti, Black Metal, Hardcore, Grindcore, Brutal Death, Death Metal, Gothic,dll

5. Era 2000- sekarang

Alternative dan Underground masih menjadi dominasi meski warna Rock, metal mulai
mengikuti seiring dengan munculnya aliran baru yakni MODErN ROCK, dengan vokal serak
berat,, distrosi guitar yang lebih berat seperti LINKIN PARK, KORN, EVANESCENE
-LIMBISKIT, dsb, dan mulailah diperhatikan lagi oleh mereka kualitas dari Harmonisasi-
skill- Beat- Speed- Power- History- dan Teknologi.

sebagai sebuah wacana di blantika musik kita ini…

Latin Jazz

Diposkan dalam Music Jazz pada November 1, 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »

Saturday, 21 February 2009 07:41 Salah satu aliran jazz yang paling menarik adalah aliran jazz latin. Aliran jazz latin berusaha menggabungkan antara musik jazz dengan ritme amerika dan juga afrika. Kadang-kadan musik jazz juga digabungkan dengan berbagai harmoni musik latin klasik dari karibia, eropa, dan juga amerika serikat. Secara garis besar, latin jazz dibagi menjadi 2, yaitu Brazilian latin jazz dan juga Cuban jazz. Salah satu aliran terkenal dari Brazilian latin jazz adalah bossa nova. Sedangkan salah satu aliran yang terkenal dari Cuban jazz adalah fusion antara musik Cuban dengan jazz amerika sperti cubop.

Banyaknya penduduk keturunan amerika latin di amerika, membuat jazz latin mulai berkembang di amerika pada tahun 1940an. Salah satu pelopor musik ini adalah Dizzy Gillespie dan juga Stan Kenton yang memulai untuk mengkombinasikan ritme dan juga struktru dari musik afro-cuban. Mario Bauza yang menambah sentuhan dari duet Gillespie dengan Kenton dan juga menelurkan komposisi lagu jazz latin pertama di dunia yang berjudul Tanga pada tanggal 31 Mei 1943. Lagu tanga ini penuh dengan permainan instrument jazz dengan improvisasi solo yang berisikan ideology yang sangat kuat. Lalu pada tanggal 31 Maret 1946, Stan Kenton menelurkan karya Machito yang diaransemen oleh Pete Rugolo. Lagu machito ini dikenal luas sebagai musik jazz latin pertama yang direkam oleh musisi jazz asal Amerika.

Pada bulan September tahun 1947, giliran Dizzy Gillespie yang berkolaborasi dengan pemain machito conga bernama Chano Pozo dan memainkan afro-cuban drums suite di Carnegie hall. Kejadian ini merupakan konser pertama yang dilakukan oleh band Amerika yang memainkan jazz latin. Setelah momen ini, Chano Pozo terus bekerja bersama Dizzy Gillespie untuk menghasilkan karya orchestra lain seperti Cubana Be, Cubana Bop dan yang lainnya.

Perbedaan dari jazz latin dan jazz klasik sendiri terlihat jelas dari ritme yang dimainkan. Apabila jazz klasik lebih sering memainkan ritme yang mengayun pelan, maka jazz latin lebih suka memainkan ritme yang lebih langsung. Jazz latin juga menggunakan beberapa instrument perkusi khusus yang mungkin tidak ditemukan dalam jazz klasik. Instrumen perkusi yang biasanya digunakan untuk musik jazz latin adalah conga, guiro, timbale, dan claves.

Jenis-jenis latin jazz juga dipengaruhi oleh musik dari brazil. Sebut saja musik afro-brazilian seperti Lundu yang memodifikasi musik dari clave. Lalu juga ada aliran bossa nova yang melegenda. Bossa nova adlaah musik campuran yang berasal dari ritme samba yang digabungkan dengan musik eropa dan Amerika dari Debussy hingga jazz Amerika. Bossa nova sendiri diciptakan oleh musisi jazz asal brazil yang bernama Antonio Carlos Jobim dan Joao Gilberto serta Stan Getz dari Amerika pada tahun 1960. Lagu yang paling terkenal adalah The Girl from Ipanema.

By jjadefriends

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s